Jumat, September 04, 2015

Amien Rais Sebut 5 Tanda RI yang Mirip Dialami Uni Soviet



Liputan6.com, Yogyakarta - Indonesia tengah menghadapi krisis ekonomi. Kondisi ini dinilai harus segera diselesaikan dengan solusi yang tepat.
Ketua Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais menyatakan, jika Indonesia tidak mampu mengatasi krisis, dikhawatirkan akan menjadi seperti Uni Soviet dan Yugoslavia.
Menurut Amien, ada 5 tanda Indonesia yang mirip dialami oleh Uni Soviet dan Yugoslavia. Yaitu ekonomi mengalami kegagalan, konflik politik pragmatis, dan pemimpin nasional yang dianggap tidak memiliki kompetensi.
Selain itu, kata mantan ketua MPR ini, pertikaian antaretnis dan adanya ancaman kekuatan global. Untuk itu, Presiden Jokowi disarankan mengumpulkan elemen bangsa dan duduk bersama membahas krisis ini.
"Saya sarankan Pak Jokowi dan Pak JK melakukan pertemuan dengan seluruh ketua lembaga tinggi negara, pimpinan TNI dan Polri, ketua umum partai politik, unsur-unsur agama, tokoh bangsa, wakil kampus terkemuka, wakil pengusaha, wakil media, dan LSM. Pertemuan tersebut supaya menghasilkan kesamaan pandangan tentang krisis yang tengah dihadapi," tutur Amien di kediamannya, Yogyakarta, Kamis (3/9/2015).
Pertemuan tersebut, menurut Amien harus dipimpin langsung oleh Kepala Negara. Nantinya seluruh kekuatan bangsa dapat melakukan sharing of power dan sharing of responsibility.
"Karena biasanya orang hanya ingin berbagi kekuasaan tetapi tidak bersedia berbagi tanggung jawab," imbuh dia.
Amien meminta pemerintah mengajak 9 elemen bangsa untuk duduk bersama membahas masalah ekonomi saat ini. Agar NKRI terhindar dari kehancuran ekonomi. (Ali/Nda)

Fraksi PAN Nilai KMP dan KIH Sudah Tak Relevan

Fraksi PAN Nilai KMP dan KIH Sudah Tak Relevan
Alfani Roosy Andinni
Jum'at,  4 September 2015 - 17:14 WIB

Ketua Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) DPR Mulfachri Harahap (kedua dari kanan). (SINDOphoto)
JAKARTA - Ketua Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) DPR Mulfachri Harahap menilai, alasan PAN masuk gerbong Jokowi karena keberadaan dua koalisi yakni Koalisi Merah Putih (KMP) dan Koalisi Indonesia Hebat (KIH) sudah tidak relevan.

"Buat kami KMP-KIH sudah tidak relevan. Realita politik seperti itu. Keputusan yang diambil sudah tak ambil konfigurasi seperti itu," ujar Mulfachri di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (4/9/2015).

Contohnya adalah terkait keputusan dua koalisi dalam menentukan Anggaran Pedapatan dan Belanja Negara (APBN) dan peraturan ilkada. "Betapa seluruh partai yang ada, tidak lagi terikat konfigurasi KMP-KIH. Kami memandang KMP-KIH tak relevan saat ini," tegasnya.

Maka itu, pihaknya menawarkan opsi yang lebih maju. Hal itu, kata dia, berangkat dari keprihatinan mendalam dari situasi bangsa saat ini.

"Sungguh tidak ringan, dollar sudah Rp14 ribu sekian, harga sembako melonjak tinggi, berapa item tak ditemukan di pasar, situasi makin buruk," ucapnya.

Wakil Ketua Komisi III DPR itu yakin, mendukung pemerintah adalah salah satu cara untuk keluar dari masalah ini ciptakan stabilitas politik.

"Itu bisa dilakukan asal konsolidasi dilakukan. Tarik menarik KMP-KIH bikin momen kegaduhan dan buat kita susah keluar dari krisis. Maka kami putuskan mendukung pemerintah, dengan harapan konsolidasi untuk stabilitas politik